Kamis, 15 Oktober 2009

kecerdasan Hati

Apakah hati anda bisa dilejitkan seperti para nabi, rasul, auliya, dan para sholihin? Apakah otak juga bisa dilejitkan seperti otak para intelek dunia, semisal Plato, Albert Einstein, Sir Issac Newton dan lain lainnya? Banyak yang beranggapan melejitkan hati dan otak sepertti para tokoh tersebut sangat susah, untuk tidak mengatakan mustahil. Sebab, mereka memang memiliki potensi yang sangat besar. Bagaimana dengan kita? Pesimisme ini karena lahir dari sebuah asumsi bahwa pelejitan dan pemberdayaan kecerdasan hati dan oyak semata mata aspek lahir semata. Artinya, usaha untuk melejitkan hati dan otak berarti harus memupuk hati dan otak sebagai alat persepsi semaksimal mungkin.

Buku ini ingin meluruskan kesalahan persepsi tersebut. Sebenarnya otak dan alat alat persepsi lahir lainnya hanya sebagai perangkat keras; sebagai media dari kecerdasan. Otak misalnya, berfungsi sebagai penghayal, pemikir, pengingat, dan perasa partisan; ia semacam stasiun transmisi. Sementara hati memiliki kelebihan kelebihan yang dimiliki indera lahir beyond the brain and the senseorgans. Hati bahkan dapat menjadi stasiun penerima wahyu, ilham, dan ilmu laduni. Namun tentu saja tidak sembarang hati; hanya hati yang suci, halus, dan lembutlah yang terpilih.