Kamis, 15 Oktober 2009

KabarIndonesia - Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Prof. Shinagawa di Nippon Medical Center terhadap seorang anak bernama Yuka Hatano terungkap sebuah keajaiban yang sangat luar biasa. Anak itu mampu menghitung 16 digit soal lebih cepat daripada kalkulator (hal.96). Fakta tersebut mengindikasikan ihwal kecerdasan otak, bukan sulap atau sihir. Otak menyimpan sejuta kemampuan mencerna, meneliti, merasakan, mencipta, bahkan mengendalikan sikap dan kepribadian manusia. Karena itu, kerusakan pada otak akan menyebabkan rusaknya kepribadian dan mental atau jiwa manusia. Di sinilah pentingnya otak difungsikan dan diasah sebaik mungkin. Secara fisik, otak hanyalah merupakan benda kecil yang memiliki berat sekitar 1.5 kg. Tetapi keberadaannya sangatlah menentukan. Begitu vital. Tuhan mampu mencipta benda kecil ini dengan sekian keajaiban.

Dunia dengan segala perkembangannya tidak bisa dipungkiri merupakan wujud dari ide-ide yang muncul dari otak. Karena itu tidak heran jika langkah atau gerak-gerik manusia dikendalikan oleh benda kecil ini. Tony Buzan dalam bukunya, Sepuluh Cara Jadi Orang Jenius Kreatif (2002) mengatakan; “otak manusia terdiri dari triliunan sel otak. Setiap sel bagaikan gurita kecil yang begitu kompleks. Ia memiliki sebuah pusat dengan banyak cabang. Setiap cabang memiliki banyak koneksi. Tiap-tiap sel otak tersebut jauh lebih kuat dan canggih daripada komputer. Masing-masing sel saling berhubungan dan bertukar informasi dengan puluhan ribu sampai ratusan ribu sel yang lain. Jaringan ini paling mempesona, begitu kompleks, dan indah. Setiap orang memilikinya”. Dengan demikian, otak menjadi sesuatu yang urgen untuk diasah setiap waktu, setiap detik, sepanjang manusia masih bernafas dan beraktivitas. Ia tidak akan bisa berkembang jika hubungan manusia bersifat pasif dengan lingkungan tempat tinggalnya. Koneksi antara otak dengan lingkungan akan menyebabkan rangsangan-rangsangan positif terhadap sel-sel yang ada di dalamnya. Buku Melejitkan Potensi Otak ini tidak hanya mengupas secara teoritik tentang fungsi atau cara kerja otak dalam diri manusia. Tetapi juga menyajikan panduan khusus dan latihan-latihan sederhana. Dengan referensi yang cukup representatif, dalam setiap sub bab, penulis memberikan ruang khusus kepada pembaca untuk menerapkan teori yang sudah dipelajarinya.

Pada bab II, misalnya, dalam hubungannya dengan upaya memberikan stimulasi pada otak, penulis menyajikan lembar kerja tentang bagaimana membuat target ide. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan target ide ialah latihan pikiran untuk menciptakan ide atau gagasan.

Setiap hari, setiap minggu, atau bahkan setiap bulan, misalnya, berapa ide yang sudah mampu diciptakan? Dengan latihan seperti ini, disadari maupun tidak, otak pada gilirannya akan bekerja secara efektif.

Thomas Alva Edison, yang memiliki 1.093 hak paten, sangat meyakini arti penting melatih pikiran. Ia mempunyai target minimal ada sebuah ide kecil setiap sepuluh hari dan satu penemuan besar setiap enam bulan (hal.25). Semakin otak diasah dengan latihan-latihan atau rangsangan-rangsangan yang positif, semakin banyak pula ide-ide yang dimunculkan.

Otak butuh nuansa, aktivitas, refreshing dan stimulasi sebagai medium untuk berasosiasi dengan lingkungan. Asosiasi menjadi titik paling urgen untuk mengaktualisasikan ide-ide yang diserap otak. Tanpa asosiasi, sel-sel otak menjadi beku dan pasif.

Karena itu, Dryden dan Vos, dalam The Learning Revolution (2002), mengatakan; “otak menyimpan informasi dengan menggunakan asosiasi. Otak menghubungkan sesuatu yang mirip dari tempat menyimpan ingatan. Belajar menyimpan informasi dalam bentuk pola-pola dan dengan asosiasi yang kuat adalah langkah pertama menuju pengembangan kemampuan otak”.

Jika asosiasi menjadi kunci pengembangan otak, maka penting memberikan ruang aktivitas terhadap otak agar ia mampu bekerja secara asosiatif. Otak yang asosiatif adalah otak yang peka terhadap lingkungan dan memiliki perkembangan kecerdasan yang baik.

Dengan demikian, asosiasi sejatinya berfungsi mencerdaskan otak. Ia secara tidak langsung juga bekerja secara efektif pada pusat-pusat kecerdasan yang meliputi: Korteks Prefrontal, yang bertugas memroses dalam berpikir; Korteks Motor, berfungsi mengendalikan aktivitas; Lobus Temporal, merupakan pusat percakapan; Lobus Parietal, bertugas menangani kemampuan spasial; Lobus Okssipital, yang menjadi pusat penglihatan; dan Serebelum atau otak kecil yang berperan penting dalam penyesuaian postur dan keseimbangan (hal.14).

Buku yang ditulis dengan gaya bahasa sederhana,